PEMIKIRAN MISTIKO-FILOSOFIS MULYADHI KARTANEGARA

Matroni Matroni

Abstract


Abstract. Mulyadhi Kartanegara is an Indonesian thinker has offered Islamic epistemology called as mystico-philosophic. What is Mulyadhi's concept of Mystico-philosophic? What is it's implication on development of contemporary metaphysics? It is library-based philosophical research that is studying data and references which are relevant with subject, including papers, books, newspapers, journals, and interviews. The results were firstly that mystico-philosophic offers new paradigm in Islamic philosophy. The second one, that it offers synthesis between religion and philosophy or sufism and philosophy. The third one, that it enables the synergy among rationality, senses and intuition. Those three components must be fulfilled in that epistemology. The fourth one, that is that senses, rationality and intuition are islamic epistemological foundations must be defended. The fifth one, that islamic epistemology tends to transcend daily life in order those three components keep synergy. The sixth, mystico-philosophic truly is needed in our contemporary century.

Keywords: Islamic Philosophy, Islamic Mysticism, Sufism

Abstrak. Mulyadhi Kartanegara adalah salah satu pemikir Indonesia yang mencoba berjuang menawarkan epistemologi Islam yang dikenal dengan mistiko-filosofis. Masalah utamanya adalah, apa dan bagaimana pemikiran Mulyadi Kartanegara tentang Mistiko-Filosofis; dan Bagaimana implikasinya terhadap perkembangan metafisika kontemporer? Penelitian ini berbasis pustaka dengan mengumpulkan data, sekaligus meneliti referensi-referensi yang terkait dengan subjek yang dikaji, baik makalah, buku, Koran, jurnal, peper sekaligus wawancara dengan menggunakan pendekatan filosofis. Hasilnya adalah, bahwa mistiko-filosofis mampu memberikan paradigma baru dalam filsafat Islam. Kedua mampu memberikan penyadaran dalam mendamaikan agama dan filsafat, tasawuf dan filsafat. Ketiga dalam mistiko-filosofis peran akal, indera dan hati sama-sama harus berjalan bermesraan, artinya belum dikatakan mistiko-filosofis kalau dalam filsafat Islam tidak menyertakan akal, indera dan hati. Keempat indera, akal, dan hati merupakan fondasi epistemologi Islam yang harus tetap dijaga dan dilestarikan. Kelima ada semangat untuk mendransendenkan atau memistikkan keseharian agar tiga fondasi ini tidak bersebrangan dan tidak berdiri sendiri. Keenam ternyata mistiko-filosofis benar-benar dibutuhkan oleh abad komtemporer.

Kata Kunci: Filsafat Islam, Mistisisme Islam, Tasawuf


Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.30984/ajip.v3i2.720

Article Metrics

Abstract view : 97 times
PDF - 147 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Aqlam: Journal of Islam and Plurality

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

AQLAM

CrossrefMoraref logo_mudaGoogle Scholar logoLogo Portal GarudaAcademia-edu - new white logoMendeley logoIOS logoresearchbib logoresearchbib logoBASE logoPKP-Index logoissuu logoWorldCat logoneliti.com logoScilit logo